Sabtu, 15 September 2012

Gerhana Disebabkan Oleh Siluman Berwujud Kepala Tanpa Badan (Bali)


Dikisahkan seorang raja siluman raksasa yang sakti mandraguna yang bernama Prabu Kalarahu. Ia merupakan penguasa jagad raya dan sedang mencoba mencari air sumber kehidupan (tirta amerta) yang konon mampu menghidupkan orang yang telah meninggal dan juga menjadikan orang yang meminumnya hidup kekal sepanjang masa. Air suci tersebut hanya dimiliki oleh para Dewa.


Dengan cara bersembunyi di kegelapan malam, raja siluman tersebut lalu menantikan saat-saat lengahnya para Dewa. Ketika para Dewa sedang lengah, dengan tergesa ia mengambil tirta amerta dan meminumnya. Namun baru seteguk dan belum sempat menelannya, Bhatara Candra sang Dewa Bulan pun memergokinya. Kalarahu pun kabur dan Bhatara Candra mengejarnya hingga akhirnya Kalarahu bersembunyi, tetapi tempat persembunyian itupun diketahui oleh Bhatara Candra yang kemudian melaporkan seluruh kejadian tersebut kepada Bhatara Guru.

Bhatara Guru segera memerintahkan Bhatara Wisnu untuk memburu Kalarahu, dengan bersenjatakan cakra akhirnya Bhatara Wisnu mampu mengalahkan raja siluman itu yang kemudian memenggal kepalanya, dan tubuhnya terhempas jatuh ke bumi. Potongan tubuh kalarahu selanjutnya menjelma menjadi sebuah lesung penumbuk padi, sedangkan potongan kepalanya tetap hidup, melayang-layang di angkasa karena ia telah sempat meminum seteguk air kehidupan.

Sejak saat itu, Prabu Kalarahu merasa dendam kepada Bhatara Candra. Ia yang kini hanya berwujud potongan kepala tanpa badan itu selalu mengintai hendak memangsa Bhatara Candra sang Dewa bulan. Setiap ada kesempatan ia pun selalu memangsa Bhatara Candra (bulan). Namun karena ia hanya berupa siluman berwujud kepala tanpa tubuh, maka setiap ia memangsa bulan, bulan pun akan muncul kembali ketika telah melewati leher sang siluman.


Sampai saat ini, sebagian masyarakat pedesaan di Pulau Jawa dan Pulau Bali mempercayai sebuah mitos bahwa bila terjadi gerhana bulan, mereka pun beramai-ramai menabuh lesung kayu dengan pukulan alu bertalu. Hal ini berkaitan dengan mitologi tentang Prabu Kalarahu ini, masyarakat berpendapat Prabu Kalarahu akan takut bilamana mendengar bunyi lesung di tabuh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar