Tentunya anda
pernah mendengar legenda sang penguasa lautan dari pantai selatan ‘Nyai
Loro Kidul’, yang dipuja oleh seluruh masyarakat Pulau Jawa sebagai ratu
cantik yang sakti mandraguna. Kecantikan dan kesaktiannya sangat
menarik perhatian penguasa-penguasa tanah Jawa hingga tak heran banyak
raja-raja yang memuja Nyai Loro sebagai junjungan mereka.
Silsilah Nyai Loro Kidul konon menurut cerita adalah seorang putri Kerajaan Pajajaran yang melarikan diri dari istana karena tidak menghendaki perjodohannya. Dari Pajajaran ia langsung menuju Gunung Kombang dan memutuskan untuk bertapa. Dalam pertapaannya, ia menyamar sebagai seorang pria dengan nama Hajar Cemara Tunggal. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pertapa yang yang sangat sakti dan berilmu tinggi. Ia dapat mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi. Bahkan berkat kesaktiannya tersebut, ia kemudian berkuasa memerintah segala makhluk halus di seluruh tanah Jawa.
Suatu ketika bertemulah Hajar Cemara Tunggal dengan Raden Sesuruh yang sedang dalam pelarian karena kalah perang dengan Ciung Wanara. Dengan kesaktiannya Hajar Cemara Tunggal dapat mengetahui bahwa kelak Raden Sesuruh akan berkuasa di tanah Jawa dan keturunannya menjadi raja-raja terkenal. Dalam pertemuan tersebut Raden Sesuruh akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Hajar Cemara Tunggal. Bahkan melihat kecantikannya, Raden Sesuruh langsung jatuh cinta. Nyai Loro Kidul kemudian memerintahkan Raden Sesuruh untuk segera membangun tanah Jawa menjadi sebuah kerajaan besar, sedangkan ia sendiri memindahkan istananya ke Samudera Pasir.
Berkat bantuan bala pasukan lelembut Nyai Loro Kidul, akhirnya Raden Sesuruh berhasil membangun Kerajaan Majapahit. Sejak saat itu keturunan Raden Sesuruh diketahui memiliki hubungan dekat dengan Nyai Loro Kidul. Namun dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa perkawinan Nyai Loro Kidul dengan raja tanah Jawa dimulai ketika masa pemerintahan raja Mataram Islam pertama yaitu Panembahan Senopati. Dan menurut legendanya semua raja-raja keturunan Panembahan Senopati kawin dengan Nyai Loro Kidul.
Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya.
Ketika muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian.
Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Ke-2, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta.
**********************

Konon, di salah satu sudut keraton Surakarta terdapat bangunan menara bertingkat yang diberi nama ‘Panggung Sangga Buwana’. Menara yang terletak di bagian timur keraton dipercaya sebagai tempat pertemuan antara Nyai Loro Kidul dan para raja-raja. Tak jarang para raja meminta pertolongan dan ajian sakti dari sang ratu untuk mengatasi segala permasalahan yang terjadi di wilayah kerajaan, mengingat pada jaman raja-raja, bangsa kita masih menganut faham aliran kepercayaan animisme dan dinamisme.
Waktu terus berlalu seiring perkembangan jaman, namun Keraton Surakarta masih berdiri megah dan tetap diakui keberadaannya oleh masyarakat kota Solo dan sekitarnya sebagai bentuk kerajaan kecil yang masih tersisa di tanah Jawa. Hingga kini pun Panggung Sangga Buwana masih diyakini oleh penduduk Surakarta sebagai balai pertemuan Raja Surakarta dengan Ratu Nyai Loro Kidul. Begitu pula sebagian masyarakat Jawa masih percaya bahwa Nyai Loro Kidul masih berkuasa di lautan selatan. Hal ini terbukti dengan adanya ritual sedekahan laut di pantai selatan setiap satu Muharam.

Masyarakat nelayan pantai selatan Jawa setiap tahun melakukan sedekah laut sebagai persembahan kepada sang ratu agar menjaga keselamatan para nelayan dan membantu perbaikan penghasilan. Upacara ini dilakukan nelayan di pantai Pelabuhan Ratu, Ujung Genteng, Pangandaran, Cilacap, Sakawayanadan sebagainya.

Naskah tertua yang menyebut-nyebut tentang tokoh mistik ini adalah Babad Tanah Jawi. Panembahan Senapati adalah orang pertama yang disebut sebagai raja yang menyunting Sang Ratu Kidul. Dari kepercayaan ini diciptakan Tari Bedaya Ketawang dari kraton Kasunanan Surakarta (pada masa Sunan Pakubuwana I), yang digelar setiap tahun, yang dipercaya sebagai persembahan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Sunan duduk di samping kursi kosong yang disediakan bagi Sang Ratu Kidul. Pengamat sejarah kebanyakan beranggapan, keyakinan akan Kanjeng Ratu Kidul memang dibuat untuk melegitimasi kekuasaan dinasti Mataram.

Pemilik hotel yang berada di pantai selatan Jawa dan Bali menyediakan ruang khusus bagi Sang Ratu. Yang terkenal adalah Kamar 327 dan 2401 di Hotel Grand Bali Beach. Kamar 327 adalah satu-satunya kamar yang tidak terbakar pada peristiwa kebakaran besar Januari 1993. Setelah pemugaran, Kamar 327 dan 2401 selalu dipelihara, diberi hiasan ruangan dengan warna hijau, diberi suguhan setiap hari, namun tidak untuk dihuni dan khusus dipersembahkan bagi Ratu Kidul.
Hal yang sama juga dilakukan di Hotel Samudra Beach di Pelabuhan Ratu. Kamar 308 direservasi khusus bagi Ratu Kidul. Di dalam ruangan ini terpajang beberapa lukisan Kanjeng Ratu Kidul karya pelukis Basoeki Abdullah.
Hotel Queen of The South di dekat Parangtritis mereservasi Kamar 33 bagi Sang Kanjeng Ratu.
Sumber:
VERSI 1
Legenda Nyai Loro Kidul sebagai penguasa Ratu Pantai Selatan merupakan bagian sejarah Kerajaan Mataram Islam. Dalam sebuah karya sastra Jawa kuno yang dikenal dengan nama Babad Tanah Jawi menyebutkan asal usul Ratu yang menguasai seluruh pesisir pantai selatan Jawa.Silsilah Nyai Loro Kidul konon menurut cerita adalah seorang putri Kerajaan Pajajaran yang melarikan diri dari istana karena tidak menghendaki perjodohannya. Dari Pajajaran ia langsung menuju Gunung Kombang dan memutuskan untuk bertapa. Dalam pertapaannya, ia menyamar sebagai seorang pria dengan nama Hajar Cemara Tunggal. Ia kemudian dikenal sebagai seorang pertapa yang yang sangat sakti dan berilmu tinggi. Ia dapat mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi. Bahkan berkat kesaktiannya tersebut, ia kemudian berkuasa memerintah segala makhluk halus di seluruh tanah Jawa.
Suatu ketika bertemulah Hajar Cemara Tunggal dengan Raden Sesuruh yang sedang dalam pelarian karena kalah perang dengan Ciung Wanara. Dengan kesaktiannya Hajar Cemara Tunggal dapat mengetahui bahwa kelak Raden Sesuruh akan berkuasa di tanah Jawa dan keturunannya menjadi raja-raja terkenal. Dalam pertemuan tersebut Raden Sesuruh akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Hajar Cemara Tunggal. Bahkan melihat kecantikannya, Raden Sesuruh langsung jatuh cinta. Nyai Loro Kidul kemudian memerintahkan Raden Sesuruh untuk segera membangun tanah Jawa menjadi sebuah kerajaan besar, sedangkan ia sendiri memindahkan istananya ke Samudera Pasir.
Berkat bantuan bala pasukan lelembut Nyai Loro Kidul, akhirnya Raden Sesuruh berhasil membangun Kerajaan Majapahit. Sejak saat itu keturunan Raden Sesuruh diketahui memiliki hubungan dekat dengan Nyai Loro Kidul. Namun dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa perkawinan Nyai Loro Kidul dengan raja tanah Jawa dimulai ketika masa pemerintahan raja Mataram Islam pertama yaitu Panembahan Senopati. Dan menurut legendanya semua raja-raja keturunan Panembahan Senopati kawin dengan Nyai Loro Kidul.
VERSI 2
Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya.
Ketika muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian.
Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Ke-2, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta.
**********************

Konon, di salah satu sudut keraton Surakarta terdapat bangunan menara bertingkat yang diberi nama ‘Panggung Sangga Buwana’. Menara yang terletak di bagian timur keraton dipercaya sebagai tempat pertemuan antara Nyai Loro Kidul dan para raja-raja. Tak jarang para raja meminta pertolongan dan ajian sakti dari sang ratu untuk mengatasi segala permasalahan yang terjadi di wilayah kerajaan, mengingat pada jaman raja-raja, bangsa kita masih menganut faham aliran kepercayaan animisme dan dinamisme.
Waktu terus berlalu seiring perkembangan jaman, namun Keraton Surakarta masih berdiri megah dan tetap diakui keberadaannya oleh masyarakat kota Solo dan sekitarnya sebagai bentuk kerajaan kecil yang masih tersisa di tanah Jawa. Hingga kini pun Panggung Sangga Buwana masih diyakini oleh penduduk Surakarta sebagai balai pertemuan Raja Surakarta dengan Ratu Nyai Loro Kidul. Begitu pula sebagian masyarakat Jawa masih percaya bahwa Nyai Loro Kidul masih berkuasa di lautan selatan. Hal ini terbukti dengan adanya ritual sedekahan laut di pantai selatan setiap satu Muharam.
Apresiasi dan legenda terkait
Berbagai macam apresiasi dilakukan orang untuk menghormati tokoh legendaris ini.Sedekah laut

Masyarakat nelayan pantai selatan Jawa setiap tahun melakukan sedekah laut sebagai persembahan kepada sang ratu agar menjaga keselamatan para nelayan dan membantu perbaikan penghasilan. Upacara ini dilakukan nelayan di pantai Pelabuhan Ratu, Ujung Genteng, Pangandaran, Cilacap, Sakawayanadan sebagainya.
Tari Bedaya Ketawang

Naskah tertua yang menyebut-nyebut tentang tokoh mistik ini adalah Babad Tanah Jawi. Panembahan Senapati adalah orang pertama yang disebut sebagai raja yang menyunting Sang Ratu Kidul. Dari kepercayaan ini diciptakan Tari Bedaya Ketawang dari kraton Kasunanan Surakarta (pada masa Sunan Pakubuwana I), yang digelar setiap tahun, yang dipercaya sebagai persembahan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Sunan duduk di samping kursi kosong yang disediakan bagi Sang Ratu Kidul. Pengamat sejarah kebanyakan beranggapan, keyakinan akan Kanjeng Ratu Kidul memang dibuat untuk melegitimasi kekuasaan dinasti Mataram.
Larangan berpakaian hijau
Peringatan selalu diberikan kepada orang yang berkunjung ke pantai selatan untuk tidak mengenakan pakaian berwarna hijau. Mereka dapat menjadi sasaran Nyai Rara Kidul untuk dijadikan tentara atau pelayannya.Ruang khusus di hotel

Pemilik hotel yang berada di pantai selatan Jawa dan Bali menyediakan ruang khusus bagi Sang Ratu. Yang terkenal adalah Kamar 327 dan 2401 di Hotel Grand Bali Beach. Kamar 327 adalah satu-satunya kamar yang tidak terbakar pada peristiwa kebakaran besar Januari 1993. Setelah pemugaran, Kamar 327 dan 2401 selalu dipelihara, diberi hiasan ruangan dengan warna hijau, diberi suguhan setiap hari, namun tidak untuk dihuni dan khusus dipersembahkan bagi Ratu Kidul.
Hal yang sama juga dilakukan di Hotel Samudra Beach di Pelabuhan Ratu. Kamar 308 direservasi khusus bagi Ratu Kidul. Di dalam ruangan ini terpajang beberapa lukisan Kanjeng Ratu Kidul karya pelukis Basoeki Abdullah.
Hotel Queen of The South di dekat Parangtritis mereservasi Kamar 33 bagi Sang Kanjeng Ratu.
Sumber:
- http://alifuru.tripod.com/sunda/ratukidul.htm
- http://id.wikipedia.org/wiki/Ratu_Laut_Selatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar